Posted by : Unknown
Minggu, 28 April 2013
Ketika menggambarkan cara penyajian sakanjabin, Ibnu Sina mengatakan terkadang sirup itu didinginkan dengan es. Ar
Razi juga menyatakan hal senada, bahwasanya sakanjabin yang didinginkan
dengan es bisa berguna untuk memadamkan panas empedu kuning. Pertanyaannya
adalah, pada waktu itu dan di daerah Timur Tengah yang panas lagi
tandus seperti tempat mereka tinggal dari mana es bisa didapatkan?
Sebagaimana diketahui, Ibnu Sina dilahirkan di Afsyahnah yang saat ini menjadi bagian Negara Uzbekistan. Sedangkan Ar Razi dilahirkan di Teheran yang saat ini masuk ke dalam Negara Iran. Baik
Ibnu Sina maupun Ar Razi lahir di wilayah yang sebelumnya ada di bawah
kekuasaan Imperium Persia dan mereka merasakan bagaimana tersohornya
Baghdad sebagai kota metropolitan yang kemajuannya diestafetkan dari
peninggalan dinasti Persia.
Salah
satu peninggalan yang menggambarkan kemegahan Imperium Persia adalah
yakhchāl, yaitu semacam kulkas penyimpan es berukuran raksaksa.Bangunan
yakhchāl masih bisa ditemui seperti yang terdapat di daerah Keman,
sekitar setengah kilometer dari Ibukota Iran, walau kini sudah tak
dipergunakan lagi.
Yakhchāl (یخچال) asal katanya yakh yang berarti es dan chāl yang berarti lubang.Yakhchāl
pertama kali dibuat sekitar tahun 400 SM oleh insinyur Persia yang
menguasai teknik menyimpan es di gurun saat musim panas.
Yakhchāl berdiri di atas tanah dengan struktur berbentuk kubah lancip
yang dilengkapi dengan sebuah ruang penyimpanan bawah tanah. Luas area bawah tanah yakhchāl bisa mencapai 5000 meter kubik lebih. Ruang bawah tanah ini yang sering dipergunakan untuk menyimpan es, walau terkadang digunakan juga untuk menyimpan makanan.
Ruangan bawah tanah disandingkan dengan konstruksi penyekat tebal yang
anti panas, menjadikan struktur bangunan dapat menyimpan es awet dalam
jangka waktu tahunan. Dinding
ruang bawah tanah dapat memiliki ketebalan hingga dua meter di bagian
dasarnya dan dibuat dengan adukan khusus yang disebut sārooj.
Material adukan untuk membangun dinding menggunakan pasir, tanah
lempung, putih telur, kapur, bulu domba, dan abu dengan masing-masing
memiliki perbandingan yang spesifik sehingga dapat mencegah perpindahan
panas. Adukan sārooj dianggap sebagai campuran yang benar-benar tak membuat air merembes.
Ruangan bawah tanah sering memiliki akses menuju qanat dan sering juga
dilengkapi dengan sistem penangkap angin atau menara angin yang dapat
dengan mudah membuat temperatur di dalam ruang bawah tanah turun menjadi
sangat dingin di hari-hari saat musim panas. Qanat
adalah sebuah sistem manajemen pengairan sebagai penyalur air yang
terpercaya bagi penduduk dan irigasi di daerah yang beriklim panas dan
gersang.
Kadang es yang akan disimpan di yakhchāl diambil dari pegunungan
terdekat selama musim dingin, tapi lebih sering yakhchāl terhubung
dengan dinding qanat yang dibuat sepanjang arah timur dan barat, dekat
dengan yakhchāl.
Di musim dingin air qanat dialirkan menuju sisi utara dinding. Naungan
dinding qanat membuat air membeku lebih cepat sehingga lebih banyak es
yang diproduksi di musim dingin, kemudian es disimpan di yakhchāl. Es
yang disimpan di yakhchāl akan lambat mencair karena isolasi raksasa
dan pendinginan air terus-menerus oleh sisi kubah berbentuk pilin
menurun menjadikan es tersedia sepanjang tahun.
Selain itu di bagian terbawah yakhchāl terdapat parit yang menampung air
dari es yang mencair untuk dibekukan kembali oleh udara gurun yang
dingin di malam hari. Air yang telah menjadi es akan dipecah dan dipindahkan ke dalam ruang bawah tanah. Proses mencair akan berulang menjadi es karena keberadaan parit di dalam kubah.
Kegunaan es di musim panas diantaranya diperuntukan untuk mendinginkan
suguhan yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan selama musim panas dan
membuat hidangan pencuci mulut dingin ala Persia yang bernama faludeh.Sebagaimana
diketahui Ar Razi adalah salah satu dokter istana, jadi beliau sudah
tak asing dengan penggunaan es dari kulkas super besar yang bernama
yakhchāl tentunya. (joko/tabloid bekam/berbagai sumber)