Posted by : Unknown
Kamis, 07 Februari 2013
Hidayatullah.com–Ketika
foto embrio manusia yang sedang berkembang karya Lennart Nilsson
pertama kali ditampilkan di majalah Life pada tahun 1965, gambarnya
menimbulkan kehebohan. Hanya dalam hitungan hari, sebanyak 8 juta segala hasil cetakan (koran/majalah) yang memuatnya terjual habis.
Embrio berusia 5 minggu. Diperkirakan panjangnya 9 mm. Tahap pembentukan wajah, dengan mulut yang terbuka, lubang hidung dan mata
Dalam Basic
Human Embryology oleh Williams P, rujukan yang biasa dipakai dalam
bidang embriologi, dikatakan, “”Kehidupan dalam rahim memiliki tiga
tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai
akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai
kelahiran.”
Berusia 8 minggu, embrio yang berkembang pesat dilindungi dengan baik oleh kantung amnion
Teknologi maju memungkinkan gambar embrio yang sedang berkembang diambil dengan hasil yang lebih jelas dan lebih besar. Gambar bisa diambil dengan menggunakan kamera konvensional yang dilengkapi lensa mikro. Atau bisa juga menggunakan alat endoskopi. Teknologi
pemindaian mikroskop elektron memungkinkan Nilsson mengambil ratusan
atau bahkan ribuan gambar embrio yang mengagumkan.
Janin berusia 10 minggu. Kelopak matanya semi tertutup, yang akan tertutup total dalam beberapa hari kemudian
Gambar-gambar karya Nilsson dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul “A Child is Born”.
Bagi umat
Islam, kabar mengenai perkembangan janin yang sangat menakjubkan bukan
hal yang sangat mengejutkan, karena Al-Qur’an sudah memberitahukannya
sejak belasan abad lalu.
Janin sekarang bisa menggenggam, meraih, dan menarik tali pusar yang panjang. Tulangnya masih lentur. Jaringan pembuluh darah yang sudah terbentuk bisa dilihat melalui kulit tipis yang masih tembus pandang
“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS. Az Zumar:6)
Usia 18 minggu. Si Fulan sekarang panjangnya kira-kira 14 cm dan sudah bisa mendengar suara-suara di luar "dunia gelap"nya
Bahkan Allah juga sudah mewanti-wanti agar tidak membunuh anak-anak yang dikaruniakan kepada manusia. “Sesungguhnya RabbMu yang membentangkan rezeki bagi siapa yang Ia kehendaki dan takdirkan. Sesungguhnya Ia Maha mengetahui hamba hambaNya lagi Maha Melihat. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut lapar, Kami-lah yang memberi rezeki mereka dan kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.” (QS.Al-Isra’:30-31)
Usia 20 minggu. Si Fulan panjangnya 20 cm. Rambut yang dikenal dengan istilah lanugo, mulai tumbuh memenuhi seluruh kepalanya
Awal tahun 2006 di Inggris marak perdebatan masalah aborsi. Sebagian
besar wanita Inggris menginginkan Undang-Undang Aborsi diperketat agar
para wanita semakin sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan aborsi.
Survei yang
dilakukan oleh MORI ketika itu menunjukkan bahwa 47 persen wanita yakin
bahwa batas waktu maksimal bisa dilakukan aborsi, yaitu janin 24 minggu,
harus dikurangi. Sebanyak 10% wanita bahkan menginginkan agar praktik aborsi dilarang sama sekali.
42% dari total responden (laki-laki dan perempuan) menginginkan agar usia janin yang boleh diaborsi dikurangi.
Kiranya apa gerangan yang membuat mereka ingin aborsi diperketat atau bahkan dilarang. Bukankah mereka adalah masyarakat yang permisif dengan hubungan di luar nikah dan seks bebas?
Jawabannya,
karena ketika masalah pembahasan Undang-Undang Aborsi mulai memanas,
beredar gambar janin si Fulan yang sedang tersenyum manis dan meringis
di dalam rahim ibunya.
Usia 23 minggu janin bisa tersenyum manis
Gambar janin
berusia 23 minggu hasil pemotretan dengan alat ultrasonografi itu telah
menyadarkan masyarakat akan realita aborsi dan keberadaan janin-janin
tak berdosa di tengah-tengah mereka.
Namun
sayangnya, mesin-mesin perang Amerika Serikat dan sekutunya tanpa ampun
merenggut keindahan janin-janin tak berdosa, bahkan jauh sebelum mereka
berbentuk. Akibat
depleted uranium dan fosfor yang digunakan dalam perang di Iraq,
Afganistan, Palestina, Kosovo dan lainnya, banyak bayi yang mati dan
dilahirkan dalam keadaan cacat yang mengerikan.